It's all about us..!!

Jutaan perempuan di Indonesia positif terserang kanker payudara dan sebagian besar terlambat untuk menyadarinya. Sebelum terlambat menyadarinya, segeralah lakukan pemeriksaan dini dengan SADARI.

Seseorang yang tak memiliki faktor berisiko tetap saja dapat terkena kanker payudara. Skrining dan deteksi dini adalah alat yang tepat untuk menurunkan risiko kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Hanya sedikit faktor berisiko yang dapat dilakukan untuk menghindari kanker payudara, seperti; hindari melakukan terapi penggantian hormon untuk jangka panjang, memiliki anak sebelum usia 30 tahun, menyusui, menghindari kelebihan berat badan dengan melakuakn olahraga dan diet yang tepat, serta membatasi konsumsi alkohol. Ada data yang menyebutkan bahwa vitamin A, C, dan E dapat melindungi dari kanker payudara, tetapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal itu. Saat ini, yang paling penting untuk setiap perempuan adalah menurunkan risiko dengan melakukan skrining mamogram secara reguler, melakukan SADARI, dan periksa ke dokter secara rutin.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan salah satu cara untuk mendeteksi kelainan pada payudara. SADARI bisa Anda lakukan sendiri di rumah setiap bulan usai siklus haid. Buatlah patokan tanggal untuk melakukan tes SADARI pada tanggal-tanggal yang mudah Anda ingat, seperti bayar tagihan.

Apa yang harus dilihat disadari saat melakukan SADARI?
1. Teraba benjolan.
2. Penebalan kulit.
3. Perubahan ukuran dan bentuk payudara.
4. Pengerutan kulit.
5. Keluar cairan dari puting susu padahal tidak sedang menyusui.
6. Ada rasa nyeri pada payudara tanpa adanya penyebab yang jelas.
7. Pembengkakan lengan atas.
8. Teraba benjolan di ketiak atau leher.

Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti tersebut di atas atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Faktor risiko terjadinya kanker payudara:
1. Mendapat haid pertama pada umur kurang dari 10 tahun.
2. Mengalami mati haid (menopause) setelah umur 50 tahun.
3. Tidak menikah.
4. Tidak pernah melahirkan anak.
5. Melahirkan anak pertama setelah umur 35 tahun.
6. Tidak pernah menyusui anak.
7. Pernah mengalami operasi payudara yang disebabkan oleh kelainan jinak atau tumor ganas payudara.
8. Memiliki anggota keluarga yang menderita kanker.

Sumber: Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: